Kamis, 04 Agustus 2016

Technology Charger Wireless

Mengetahui Mengenai Teknologi Charger Wireless Yang Saat Ini Sedang Dikembangkan 

Teknologi yang semakin canggih membuat banyak perusahaan menciptakan beragam produk teknologi yang semakin memudahkan manusia. Salah satu yang saat ini sedang berkembang adalah Teknologi Charger Wireless. Teknologi ini memang terbilang masih baru meskipun idenya sudah ada sejak lama. Perkembangan teknologi seperti smartphone, tab dan juga yang lainnya banyak yang telah menggunakan teknologi ini. Pengisian daya bisa dilakukan tanpa perlu menyambungkan sumber dengan menggunakan kabel. Pada saat ini memang masih beberapa produk yang menggunakan teknologi seperti ini.

Pengertian Teknologi Charger Wireless
Teknologi dari Charger Wireless merupakan suatu teknologi tentang pengisian daya baterai tanpa kabel. Belum banyak yang mengetahui mengenai teknologi ini. masyarakat masih banyak yang menggunakan charger biasa yang memerlukan kabel untuk bisa menghubungkan baterai dengan sumber daya. Para ilmuwan telah mengembangkan teknologi charger dengan tanpa kabel. Saat ini pun sudah mulai bermunculan produk yang memiliki fasilitas teknologi seperti ini seperti Samsung, Lumia, Apple, dan masih banyak yang lainnya. Perusahaan besar tersebut sudah mulai mengembangkan namun memang masih beberapa jenis produk saja yang menggunakan teknologi ini.
teknologi Charger Wireless terbaru yang siap dikembangkan
Ada 120 perusahaan yang sudah mengembangkan dan menggunakan teknologi charger tanpa kabel. Meskipun tanpa menggunakan kabel untuk menghubungkan baterai dengan sumber daya namun untuk bantalannya masih perlu dicolokkan dengan sumber daya. Teknologi Charger Wireless sebenarnya masih menggunakan kabel, namun kabel ini tidak terhubung langsung dengan smartphone namun kabel ini digunakan untuk bantalan. Bantalan energy ini adalah yang akan menginduksi energy ke smartphone. Teknologi ini memang cukup mudah untuk digunakan karena untuk mengisi daya, anda hanya perlu meletakkan smartphone anda di atas bantalan. Daya akan terisi dengan baik meskipun tidak menghubungkan smartphone dengan menggunakan kabel. (Baca juga: Tentang Perangkat Konsol Xbox)

Hukum fisika untuk teknologi ini
Teknologi ini menggunakan hukum fisika dalam menghantarkan listrik. Teknologi Wireless Charger ini mengikuti hukum kumparan kawan yang di aliri dengan listrik akan menimbulkan medan magnet. Apabila kumparan terkena medan magnet maka akan menghasilkan aliran listrik. Hukum ini sangat bermanfaat dengan perkembangan teknologi ini. Jika anda tertarik untuk mendapatkan smartphone dengan teknologi ini, Lumia telah menyediakan produk yang telah menggunakan teknologi wireless charger. Pengisian daya bisa dilakukan hanya dengan meletakkan smartphone di atas pad atau bantalan yang sudah dicolokkan pada sumber listrik.

Memang belum banyak yang menggunakan Teknologi Charger Wireless ini. Namun perusahaan intel saat ini juga sedang mencoba untuk menggunakan teknologi ini. Teknologi ini memang terlihat begitu mudah digunakan namun dibalik kemudahan ini terdapat sesuatu yang rumit. Para ilmuan masih terus mengembangkan mengenai wireless charger yang bisa mengisi daya tanpa perlu di tempelkan dengan pad. Dengan jarak beberapa meter, smartphone sudah bisa mengisi daya. Kecanggihan teknologi memang masih terus berkembang karena persaingan bisnis teknologi juga semakin ketat sehingga para pemikir akan terus berusaha menghasilkan produk-produk baru yang menarik dan canggih.


Kian majunya teknologi memungkin banyak hal bisa diciptakan atau diwujudkan. Selama ini, kita mengenal charge handphone menggunakan dongle charge yang dicolokan ke ponsel sebagai alat pengisi daya. Berkat kemajuan teknologi, kini sudah ada wireless charger  dengan teknologi wireless charging yakni proses pengisian ulang baterai tanpa kabel. Tidak ada lagi kabel yang dicolokan dari sumber listrik ke smartphone. Yuk Cari Tahu Apa Itu Wireless Charger Dan Apa Saja Keistimewaannya?
Beberapa produsen mulai menanamkan fitur pengisian daya tanpa kabel tersebut pada produk terbarunya. Bahkan, wireless charging station atau alat pengisi daya nirkabel sudah dibuat dalam beberapa jenis furnitur, seperti meja, lampu tidur, atau bahkan lemari hias. Smartphone high end yang mampu mendukung wireless charge di antaranya yakni Google Nexus 6, Samsung Galaxy S4 dan Nokia Lumia 920.
proses wireless charging
Di Indonesia, teknologi wireless charging sudah cukup dikenal. Dan sebetulnya, teknologi pengisian daya nirkabel ini juga bukan hal baru. Ilmuwan Amerika Serikat, Nikola Tesla, pada tahun 1891 telah menjadi orang pertama yang mencoba teknologi transmisi energi nirkabel ini. Saat itu, dia sukses menyalakan lampu listrik tanpa kabel.
Sistem tersebut kemudian diadopsi karena dinilai istimewa dan lebih aman. Berikut fakta yang membuktikan bahwa wireless charging lebih aman. Pertama, kemungkinan terjadi hubungan arus pendek atau korsleting dipastikan nol. Kedua, alat pengisi daya nirkabel juga dianggap lebih tahan lama karena kabel tak mudah rusak. Ketiga, teknologi ini pun dinilai ramah lingkungan karena bersifat non-radiatif.
Cara kerjanya simpel. Teknologi wireless charging—disebut juga pengisian induksi—memanfaatkan medan elektromagnetik untuk memindahkan energi di antara dua perangkat. Peranti elektronik -misalkan handphone- yang ingin di-charge tinggal diletakkan di atas alat pengisi daya nirkabel.
Saat alat itu dinyalakan, arus listrik menciptakan medan magnet dan menyalurkannya ke kumparan perangkat di atasnya. Kumparan yang terhubung dengan baterai itu kemudian menciptakan arus listrik. Pengisian daya pun dimulai dan akan terhenti ketika perangkat itu diangkat. Lantaran membutuhkan kumparan khusus, belum semua alat elektronik kompatibel dengan teknologi ini.
wireless power
Saat ini, ada tiga patokan standar wireless charger, yaitu Qi standar, Power Matters Alliance (PMA), dan Aliance for Wireless Power (A4WP). Standar tersebut diharapkan mampu menciptakan ekosistem yang dapat menyokong pertumbuhan produk-produk berbasis wireless charging.
Teknologi wireless charging kini jadi tren baru di dunia telekomunikasi. Beberapa produk smartphone sudah memanfaatkannya untuk mengurangi pemakaian kabel sehingga lebih praktis, contohnya adalah Samsung Galaxy Note 5, peranti yang sudah kompatibel dengan pengisi daya nirkabel jenis standar Qi dan PMA.
Di Amerika Serikat dan Eropa, sudah banyak restoran dan kafe menyediakan wireless charging station di gerai mereka. Salah satu restoran cepat saji di Amerika Serikat, misalnya, sudah menempatkan sekitar 600 station di gerainya. Di Inggris, salah satu kedai kopi berbasis waralaba juga sudah memasang 200 station di cabang-cabangnya.
Berikut ini beberapa wireless charger yang bisa membebaskan Anda dari masalah kabel:

Yootech Wireless Charging Pad 

yootech wireless charging
Dibandrol seharga 14 dolar atau sekitar Rp 200.000 untuk kurs dolar saat ini, Yootech yang berstandar Qi ini menjadi bukti bahwa wireless charging tidak harus mahal. Nilainya mungkin terbilang murah, tapi Yootech bisa melakukan pekerjaannya dengan baik. Bentuknya kecil, seperti sebuah keping segitiga dengan pad (alas) berbentuk bulat untuk meletakan gadget atau handphone yang akan dicharge, dengan dimensi 2.95″ x 2.95″ x 0.35″, dan berat 22.6 gram.
Ada tiga kaki di bagian bawah untuk mencegah tergelincir. Ada lampu (LED) kecil di depannya yang menyala hijau saat pengisian berlangsung, dan menyala merah ketika tidak ada pengisian, dan berkedip hijau dan merah jika perangkat Anda tidak didudukan di tempat yang manis.
Dengan power output 1A, pembeli akan mendapatkan kabel USB tapi tidak dengan adapternya. Bagi Anda yang anggarannya terbatas, produk ini bisa menjadi referensi menarik.

ChoeTech Stadium Qi Wireless Charger

Choe Tech Stadium Qi wireless
Berikut ini termasuk charger sederhana dan murah yang proses pengisian baterainya bagus. Bentuknya ramping, pad ringan dengan desain yang cukup minimalis. Ada LED biru untuk menunjukkan bahwa pengisian berlangsung. Selama penempatan ponsel tepatdi tengah (ada tiga kumparan di dalam), Anda tidak perlu mengutak-utik lagi posisinya. Meski pad nya datar, Anda tidak perlu kuatir device Anda tergelincir karena charger ini memiliki empat kaki untuk mencegah resiko, mengingat bahannya sangat ringan.
Setiap pembelian Choe Tech, pembeli mendapatkan kabel Micro USB, tapi tidak ada adaptor AC. Dengan power 1A, charger berstandar Qi ini memiliki dimensi 4.72″ x 2.76″ x 0.42″, dan berat 66 gram.

Nokia DT-900 Wireless Charging Plat

Nokia DT-900 Wireless
Satu hal pasti yang membuat wireless charger Nokia sangat menonjol di antara produk sejenis yakni adanya kenyataan bahwa charger ini tersedia dalam berbagai warna-warna cerah: biru, kuning, dan merah, selain warna putih dan hitam seperti pada umumnya.
Papan untuk pengisian baterai ini dibuat dari bahan dasar yang halus, yang bagian pinggirnya berbahan plastik, dengan karet anti-slip ring di bagian tengahnya. Ada lampu kecil berwarna putih yang menyala untuk memberitahukan pemakainya bahwa pengisian sedang berlangsung.
Setiap pembelian charger Nokia, pembeli akan mendapatkan kabel (tapi bukan Micro USB) dan AC adapter. Namun, produk ini memiliki kekurangan yakni pada adaptornya yang dinilai kurang ideal. Saat ini, Nokia sudah memproduksi adapter baru DT-903 yang memiliki fitur yang keren dan mensupport bluetooth.
Wireless charger seharga 35 dolar atau setara dengan Rp 490.000 ini juga termasuk paket USB standard , tapi hanya berlaku untuk handsets Lumia  830 atau Lumia 930.

Incipio Ghost 220

incipio ghost 220 wireless
Seperti kata pepatah “harga berbicara”, perangkat seharga 80 dolar atau senilai Rp 1.120.000,- ini pastinya menawarkan suatu kelebihan dibandingkan wireless charger yang harganya lebih murah, yakni dari segi pemakaian, Ghost 220 bisa mengisi baterai 3 device sekaligus dalam sekali waktu.
Meskipun harganya mentereng, tampilan Ghost 220 ini tidak mencolok, malah sebaliknya, terlihat sederhana, ramping, tidak mengkilap, berbahan pastik hitam. Namun, Ghost 220 tetap terlihat elegan dengan desain dua lampu yang tipis memanjang untuk menandakan proses pengisian energi sedang berlangsung. Lalu, ada dua simbol Qi di bagian atas untuk menandai posisi tempat meletakan dua smartphone, atau tablet kecil dan telepon.
Setiap membeli paket Incipio Ghost 220 yang berdimensi 7″ x 3.5″ x 0.6″ dan berat 154g, Anda akan mendapatkan USB standar dengan power output 1A (2.4A) yang energinya dibagikan ke dua device yang sedang di-charge. Anda juga dapat mengisi perangkat ketiga pada saat yang sama dengan USB ke kabel USB Micro. Paket ini termasuk pengisi baterai portabel yang dapat diisi secara wireless atau tanpa kabel.
Tak hanya itu, paket ini termasuk bonus bantalan kecil untuk perangkat tunggal dan baterai tambahan untuk melayani baterai-baterai tipe lama seperti iPhone 5, yang cocok dengan Qi wireless chargers.

Duracell PowerMat + PowerCase

Duracell PowerMat + PowerCaseBeberapa handphone cocok dengan tipe wireless charger Powermat, misalnya ponsel versi AT&T dan LG G3 yang dicocokan dengan sistem charging PMA, kendati perlu ada perlakuan khusus. Penampakan PMA jauh lebih ramping jika dibandingkan dengan wireless charger standard Qi, dengan desain menarik yang warnanya mengkilap, dengan pad dari plastik hitam atau putih yang beralaskan bahan aluminium.
Lingkaran kecil menandai tempat pengisian yang bisa dipakai dua perangkat secara bersamaan. Namun, perangkat berdimensi 6.25″ x 3.75″ x 0.38″ dan berat 172 gram ini punya masalah yakni dua lampu LED yang menyala saat men-charge mengeluarkan suara yang mengganggu.
Tipe Duracell ini memang menawarkan solusi untuk ponsel tertentu dan pengisi daya baterai portabel yang dapat dihubungkan pada pad. Harga yang ditawarkan untuk memiliki Duracell Powermat adalah tinggi bisa mencapai 50 dolar atau Rp 700.000,- ditambah PowerCase yang mencapai 120 dolar atau setara dengan Rp 1.680.000,-
Semoga Anda sudah mendapatkan pencerahan, Apa Itu Wireless Charger Dan Apa Saja Keistimewaannya

teknologi LI-FI pengganti wifi

Apa Itu Li-fi
Teknologi yang semakin berkembang sangat pesat memang membuat kita sebagai pengguna terbantu sekaligus terkadang dibuat kewalahan. Dari sekian banyak #teknologi tersebut mungkin saja ada beberapa diantaranya yang sudah membuat kita puas. Namun tahukah Anda bahwa diluar sana para ahli masih terus menerus berinovasi dan mengembangkan teknologi yang telah ada. Salah satu teknologi yang saat ini telah diinovasikan adalah Wi-Fi.
Wi-Fi yang kita kenal sebagai teknologi nirkabel untuk sebuah jaringan internet, mungkin sebentar lagi akan berubah. Hasil pecobaan yang dilakukan oleh Oxford University dan University College baru-baru ini mendapatkan hasil sistem bernama Li-Fi,  sebuah teknologi di mana cahaya dijadikan sebagai medium pengantar data yang bisa mentransfer data dengan kecepatan mencapai 100 Gbps.



Kecepatan yang mencapai berkali-kali lipat lebih kencang dari Wi-Fi ini disinyalir akan menjadi teknologi teranyar jaringan nirkabel yang akan menggantikan Wi-Fi. Lalu seperti apakah teknologi Li-Fi ini sendiri sebenarnya? Berikut ulasannya.

Apa Itu Li-Fi?

Li-Fi sendiri merupakan akronim dari Light Fidelity yaitu sebuah jaringan nirkabel untuk sistem komunikasi yang menggunakan cahaya sebagai medianya. Dan teknologi ini tidak lagi memakai frekuensi radio konvensional pada Wi-Fi. Teknologi yang bisa mentransfer data hingga 100 Gbps ini telah  sukses didemonstrasikan pada sepasang #smartphone Casio di Consumer Electronics Show tahun 2012 di Las Vegas.

Bagaimana Cara Kerja Li-Fi?

Untuk membuat Li-Fi ini bekerja, Anda membutuhkan dua sumber cahaya yang berada pada masing-masing ujung perangkat. Sumber cahaya yang bisa digunakan yaitu LED atau detektor foto (Light Sensor). Saat cahaya LED menyala, cahaya sensor pada ujung perangkat lainnya akan mendeteksinya dan mengartikannya sebagai biner 1.
Lalu seperti apa sebuah data dapat dikirimkan dengan teknologi Li-Fi ini? Dalam jumlah cahaya LED tertentu tadi, sebuah pesan akan dapat dikirimkan dan kemudian ditangkap oleh detector cahaya pada perangkat lainnya.

Liputan6.com, Jakarta - Wi-Fi menjadi salah satu teknologi nirkabel yang digunakan banyak orang untuk berinternet. Namun, seperti diketahui, sudah ada teknologi terbaru yang kelak akan mengalahkan sistem wireless tersebut di masa depan. Teknologi yang disebut 'Li-Fi' ini sedang dipersiapkan dan diuji coba. Lalu, apa bedanya Li-Fi dengan Wi-Fi?

Mengutip informasi laman Telegraph pada Selasa (8/3/2016), Li-Fi merupakan teknologi wireless yang konon akan menjadi alternatif selain Wi-Fi. Teknologi ini tengah diuji untuk mengirim data dalam kecepatan 1Gbps (Gigabyte per second).

Di kecepatan itu, teknologi Li-Fi diklaim bisa bekerja 100 kali lebih cepat ketimbang Wi-Fi. Yang artinya, mengunduh file video atau film dengan resolusi highdefinition bisa dilakukan hanya dalam waktu hitungan detik!
Teknologi ini kabarnya telah disulap ke sebuah perangkat wireless oleh sebuah startup asal Estonia yang bernama Vélmenni. Untuk saat ini, Li-Fi tengah di uji coba pada beberapa lokasi perkantoran dan industrial di Estonia.

Perangkat Li-Fi ini mentransfer data dengan menggunakan bohlam LED sebagai 'wadah'nya, yang mana dapat berkedip dalam hitungan nanoseconds sehingga tidak dapat dilihat mata manusia sedikitpun.

Teknologi Li-Fi dikembangkan pertama kali pada 2011 oleh Professor Harald Haas dari University of Edinburg.

Tidak seperti sinyal Wi-Fi yang bisa menembus dinding, sayangnya koneksi Li-Fi justru mengandalkan cahaya lampu dan hanya dibatasi dalam satu ruangan saja. Bagaimanapun, meski terbatas, potensi keamanan Li-Fi dinilai esktra.



Teknologi ini diprediksi akan menjadi perangkat rumahan yang ramah lingkungan, serta efisien. Karena, selain berfungsi sebagai bohlam lampu LED, Li-Fi dipastikan bisa menciptakan koneksi antar perangkat rumahan, mengingat teknologi ini diusung untuk era IoT (Internet of Things).

Internet Of Things dan Implementasi Internet of Things dalam Kehidupan Sehari-hari

INTERNET of Things (IoT) sudah mulai merasuki segala lini kehidupan kita. Tak cuma di rumah, IoT telah menginvasi tempat kerja, pabrik, rumah sakit, dan lain sebagainya. 

       Bukan hanya menjanjikan kemudahan dan kenyamanan hidup, tetapi IoT juga menyajikan potensi ekonomi dan bisnis yang luar biasa. Data IDC memperkirakan, pada tahun 2020, IoT dan ekosistem teknologi di sekitarnya akan menciptakan pasar senilai US$ 8,9 triliun.
        Sementara itu, jumlah peranti yang saling terkoneksi juga meningkat pesat. Bahkan menurut IDC, tak kurang dari 212 miliar piranti akan saling terkoneksi pada tahun 2020.

Lalu apa itu Internet Of things? Seberapa pengaruhnya teknologi tersebut? Simak ulasannya di bawah ini.

Apa itu IoT?

        Internet of Things (IoT) adalah sebuah konsep/ skenario dimana suatu objek berkemampuan untuk mentransfer data melalui jaringan tanpa memerlukan interaksi manusia ke manusia atau manusia ke komputer. IoT telah berkembang dari konvergensi teknologi nirkabel, micro-electromechanical systems (MEMS), dan internet.

        'A Things' pada Internet of Things dapat didefinisikan sebagai subjek misalkan orang dengan monitor implant jantung, hewan peternakan dengan transponder biochip, sebuah mobil yang telah dilengkapi built-in sensor untuk memperingatkan pengemudi ketika tekanan ban rendah.
Sejauh ini, IoT paling erat hubungannya dengan komunikasi machine-to-machine (M2M) di bidang manufaktur dan listrik, perminyakan, dan gas. Produk dibangun dengan kemampuan komunikasi M2M yang sering disebut dengan sistem cerdas atau 'smart' (contoh: smart label, smart meter, smart grid sensor).

Konsep Internet of Things

       Meskipun konsep ini kurang populer hingga tahun 1999, namun IoT telah dikembangkan selama beberapa dekade. Alat internet pertama, misalnya, adalah mesin Coke di Carnegie Melon University di awal 1980-an.

       Para programer dapat terhubung ke mesin melalui internet, memeriksa status mesin dan menentukan apakah ada atau tidak minuman dingin yang menunggu mereka, tanpa harus pergi ke mesin tersebut.
Istilah Internet of Things mulai dikenal tahun 1999 yang saat itu disebutkan pertama kalinya dalam sebuah presentasi oleh Kevin Ashton, Co-founder and Executive Director of the Auto-ID Center di MIT.

Penerapan Internet of things


    Beberapa vendor teknologi terkemuka pun sudah banyak menerapkan dari masuknya IoT, contohnya Samsung yang sepertinya sudah siap menyongsong era Internet of Things itu.

     Raksasa teknologi asal Korea Selatan ini menghadirkan mesin cuci, kulkas, dan televisi yang dapat dikontrol dengan smartphone atau smartwatch pada gelaran CES 2016, Januari lalu.


      Samsung bukan satu-satunya yang menyuguhkan teknologi masa depan. Google, LG, dan Apple pun siap menyambut era Internet of Things itu.

      LG Electronics telah memperkenalkan fitur Home Chat untuk peralatan rumah tangga seri premium pada awal Mei lalu. Peralatan itu antara lain mesin cuci, kulkas, dan microwave oven.

     Home Chat memungkinkan konsumen mengontrol dan memonitor perangkat elektroniknya lewat smartphone dari jarak jauh. Untuk itu, LG menggandeng penyedia aplikasi layanan pesan instan LINE, yang memungkinkan pengguna berkomunikasi dengan peralatan rumah tangganya.

       Pihak Apple pun melihat maraknya inovasi dalam produk peralatan rumah tangga, Apple pun tertarik menawarkan konsep rumah pintar dalam acara Worldwide Developers Conference di San Francisco, AS, beberapa waktu lalu. Sepertinya era Internet of Things tak lama lagi bakal terwujud.

Kesimpulan




       Internet of Things (IoT) menggambarkan terhubungnya semua benda ke jaringan internet. Seperti contoh dari penerapan di atas, yang terhubung bisa berupa tirai, televisi, coffee maker, tempat tidur, garasi, meja, pulpen, gelang--semuanya.

      Semua perangkat tersebut memiliki sensor sehingga bisa mengenali lingkungan sekitarnya. Sesama perangkat IoT juga bisa 'berbicara' satu sama lain, sehingga tercipta ekosistem yang membuat semua hal bisa terjadi secara otomatis.

      Ke depannya, kemungkinan yang bisa diciptakan IoT sangat luas dan tidak terbatas di dalam rumah. Platform IoT bisa menjadi basis smart city untuk meningkatkan kualitas kehidupan warga.
Platform IoT juga bisa digunakan di mesin industri, yang akan memonitor kinerja tiap mesin secara real-time sehingga setiap masalah bisa diketahui dengan cepat. Singkat kata, peluang IoT sangat luar biasa


Belakangan ini istilah Internet of Things (IoT) sedang naik daun. Sebenarnya, IoT itu makhluk apa sih? Penjelasan sederhananya, Internet of Things adalah teknologi yang memungkinkan benda-benda di sekitar kita terhubung dengan Internet. Sehingga, dapat menjalankan sebuah fungsi secara otomatis. Misalnya, sebuah kulkas dapat melacak jika persediaan telur Anda sudah mau habis. Kemudian, lewat perantara Internet, ia mengirimkan notifikasi agar Anda segera belanja.
Pemanfaatan IoT tentu bukan hanya membuat kulkas pintar. Terdapat begitu banyak implementasi IoT lain yang bisa membuat hidup manusia jadi lebih mudah. Bahkan, hadirnya development board seperti Arduino, Raspberry Pi, Intel Edison, dan Intel Galileo pun mendorong para makers berinovasi di sektor IoT ini.
Ingin tahu seperti apa? Berikut lima implementasi IoT dalam kehidupan sehari-hari yang sebagian besar sudah bisa Anda miliki. Bahkan, ada juga yang dapat Anda bangun sendiri.
Memonitor Bayi dengan Kimono Cerdas
Sekilas, kimono bernama Mimo ini tampak seperti baju bayi pada umumnya. Hanya saja, hiasan berbentuk kura-kura yang terdapat padanya mampu mengirim data ke receiver berwujud bunga teratai, yang kemudian mengirimkan informasi ke aplikasi iOS atau Android via koneksi Internet.
Regular_Image_1_MimoKimono ini mampu memonitor napas, posisi tubuh, aktivitas tidur, dan temperatur kulit bayi yang dapat Anda lacak secara real-time via aplikasi khusus pada ponsel. Satu lagi, karena terdapat mikrofon pada aksesori kura-kura tadi, Anda juga dapat mendengar suara di sekitar bayi.
Sepeda Pintar yang Mampu Merekomendasikan Rute
Sepeda adalah salah satu peralatan olah raga yang tepat disandingkan dengan IoT. Vanhakws, perusahaan rintisan asal Toronto, Kanada, melihat ini sebagai peluang besar. Mereka merancang connected bicycle buat pengendara urban. Proyek Kickstarter ini memikat begitu banyak netizen hingga mendulang crowdfunding senilai US$ 820 ribu atau sekitar Rp 11,3 miliar.

Sepeda bernama Valour ini dilengkapi general positioning system atau GPS dan beragam sensor serta koneksi Wi-Fi dan Bluetooth untuk memudahkan berkomunikasi dengan ponsel atau jam pintar. Valour dapat mendeteksi kendaraan yang ada di blindspot pengendara untuk meminimalkan terjadinya kecelakaan.
Selain itu, setiap digunakan, sepeda ini akan merekam data perjalanan. Misalnya, apakah ada lubang pada rute yang dilewati. Pada sesi bersepeda berikutnya, Valour, sepeda premium yang dijual dengan harga mulai dari US$ 1.249 (sekitar Rp17,2 juta) dapat merekomendasikan rute yang lebih nyaman untuk dilewati.
Menyiram Tanaman Secara Otomatis
Alat penyiram tanaman otomatis sudah tersedia sejak lama. Berbeda dengan yang sudah ada, sistem bernama OpenSprinkler ini lebih pintar karena tidak hanya mampu menyiram tanaman sesuai jadwal. Ini juga berdasarkan kondisi kelembapan tanah. Akibatnya, penggunaan air jadi lebih efisien. OpenSprinkler, yang dikembangkan oleh mantan editor Wired, Chris Anderson, dan Rui Wang ini, terhubung ke internet via Ethernet atau Wi-Fi.
Regular_Image_3_Menyiram_tanaman_secara_otomatis
Jika Anda suka ngoprek dan mencari sistem penyiraman tanaman pintar buat di rumah, OpenSprinkler tersedia dalam paket DIY (Do It Yourself). Atau jika tidak mau repot, terdapat juga alat siap pakai yang dibangun dengandevelopment board Arduino dan Raspberry Pi.
Colokan Listrik Pintar
Colokan pintar, atau smart plugs dengan koneksi Wi-Fi ini menjadi perantara antara colokan biasa di rumah Anda dengan peralatan rumah tangga seperti oven atau lampu. Alat ini bisa digunakan utuk menyalakan atau mematikan sambungan listrik lewat aplikasi ponsel dari mana saja, asalkan dalam jangkauan Internet.
Regular_Image_4_Colokan_listrik_pintar
Beberapa colokan pintar bahkan mampu memonitor berapa daya yang digunakan. Anda pun dapat menghemat energi, yang ujung-ujungnya menekan biaya. Walaupun pada awalnya Anda harus boros, karena investasi untuk membeli colokan pintar ini tidak murah. Sekadar informasi, alat ini dijual dengan kisaran harga 50 dolar AS (Belkin WeMo Switch) hingga 160 dolar AS (Plugwise Home Start). Jika tertarik membuat colokan pintar sendiri, Anda bisa melihat proyek DIY ini.
Sistem Peringatan Bencana
Suka merasa was-was saat meninggalkan rumah? Mungkin sudah saatnya Anda memasang alat seperti Ninja Sphere. Alat ini merupakan hub yang dapat tersambung dengan bermacam sensor dan alat pintar buatan brand lain, seperti sensor suhu, sensor gerakan, lampu pintar, colokan pintar, dan banyak lagi.
Regular_Image_5_Sistem_peringatan_bencana
Ninja Sphere, yang terhubung ke Internet lewat Wi-Fi ini, mampu menarik data dari sensor yang berada dalam jaringan rumah. Contohnya, suhu luar dan dalam ruangan. Ketika ada lonjakan suhu secara mendadak, Anda akan mendapat notifikasi via aplikasi ponsel. Anda pun dapat menghubungi tetangga atau pihak yang berkepentingan untuk melakukan pengecekan sebelum terlambat. Alat ini dijual dengan harga US$ 250 dolar AS atau sekitar Rp 3,5 juta.
Anda dapat membangun sendiri sistem peringatan dini di rumah secara DIY dengan memanfaatkan CISECOLibelium Waspmote, RasWIK, atau PiCrust. Selain bisa menekan biaya, Anda dapat memasang sensor-sensor pada posisi yang benar-benar membutuhkan pengawasan.